Tugsa mempertahankan kemerdekaan RI
1.
Dukungan spontan dari
berbagai pihak terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945.
Berita Proklamasi 17
- 8 - 1945 tersebar dan disambut oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia .
Dan Rakyat Indonesia
jaga telah siap untuk berjuang, dan berkorban demi tetap tegaknya. Kemerdekaan Indonesia
yang telah dicapai .
Dukungan spontan itu menimbulkan berbagai peristiwa heroik di berbagai
daerah antara lain :
a. Pernyataan
Sri Sultan Hamengku Buwono iX
Pada tanggal 5
September 1945 Sri Sultan Harrrengku Buwono IX, menyatakan sikapnya untuk mendukung
Proklamasi kemerdekaan Republik indonesia. Beliau bersama rakyat Yogyakarta
menyatakan bahwa Yogyakarta adalah bagian wilayah
Negara Republik lndonesia dan bertekad akan mempertahankan tegaknya Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
b. Rapat raksasa di lapangan Ikada .
Sabagai wujud dari
bukti dukungan terhadap Proklamasi 17 - 8 - 1945 rakyat Jakarta mengadakan
rapat raksasa di lapangan IKADA Jakarta
tanggal 19 September 1945. Rapat yang dihadiri Presiden Soekarno beserta wakil
Presiden Drs. Moh. Hatta.
Presiden menyampaikan pesan kepada rakyat agar tetap percaya pada pimpinan
serta kembaili dengan tertib dan tenang sambil menunggu perintah selanjutnya.
c Insiden
Bendera di Surabaya .
Tanggal 19 September 1945 terjadi insiden Tunjungan, penyebabnya adalah
adanya beberapa orang Belanda yang
mengibarkan bendera kebangsaannya (merah, putih, biru) dipuncak “Hotel tersebut
dan oleh pemuda Indonesia disobek warna
birunya, sehingga tinggal Dwi Warna saja (Merah – Putih).
d. Pertempuran Lima hari di Semarang
Pada
tanggal 14 – 19 Oktober 1945 terjadi pertempuran sengit antara rakyat dengan
tentara Jepang. Penyebabnya adalah tersiarnya kabar bahwa Jepang telah meracuni
sumber air minum di daerah Candi Semarang.
Karyadi
selaku kepala laboratorium Rumah sakit memberanikan diri untuk memerikasa air
tersebut.
Ketika Dr Karyadi
memeriksa air tersebuit, Jepang menembaknya sehingga gugur. Meletuslah perang selama lima hari, antara
pemuda Semarang
melawan tentara Jepang. Pertempuran itu disebut Pertempuran lima hari Semarang .
e. Berbagai
periswita Heroik di Tempai lain.
Pada awal setelah
Proklamasi terjadi berbagai bentrokan dengan tentara Jepang. Hal ini di
sebabkan oleh tugas tentara Jepang untuk melaksanakan perintah Sekutu yaitu
mengembalikan kondisi Indonesia
seperti sebelum perang, sangat bertentangan dengan tekad rakyat yang mendukung
penuh Proklamasi Kerrrerdekaan .
1. Di Jakarta
BKR bersama para pemuda menyerbu gudang senjata di Cilandak.
2. Di Bandung : Para
Pemuda dan Pelajar bekas PETA ( Pembela Tanah air) menyerbu pasukan panser Jepang dan berhasil
merebut 9 buah panser dan merampas sejumlah senjata di lapangan andir.
3. Di Bogor : Para pemuda berhasil melucuti senjata Polisi Jepang .
4. Di Surabaya : Rakyat bersama BKR merebut kompleks penyimpanan senjata
Jepang dan pemancar Radio di Embong Malang .
5. Di Surakarta : Rakyat
bertempur dan mengepung markas Kompeitai Jepang dengan gugur nya pemuda Arifin
( namanya diabadikan sebagai nama Jembatan ).
6. Di Aceh :
Aksi pemuda melawan Jepang terjadi di Sigli , Langsa dan Lhokeseumawe.
7. Di Lampung : Para
pemuda dan BKR melucuti tentara Jepang di Teluk Betung, Kalianda dan Mengga!a .
2. Penyusunan Kelengkapan Pemerintah dan Negara
a. Penyusunan Kementrian
Penyusunan ini ditetapkan melalui sidang PPKI (Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia tanggal 19 Agustus 1945).
Dalam sidang diputuskan bahwa Presiden dibantu 12
kementrian yang ada, pada kabinet pertama kali di Indonesia yaitu sbb :
|
1 Menteri dalam Negeri
2 Menteri Luar Negeri
3 Menteri Keuangan
4 Menteri Kehakiman
5 Menteri Keamanan Rakyat
6 Menteri Kemakmuran
7 Menteri Kesehatan
8 Menteri Pengajaran
9 Menteri Penerangan
10 Menteri Sosial
11 Menteri Pekerjaan Umum
12 Menteri Perhubungan (ad. Interim)
|
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
|
RAA. Wiranata Kusumah
Mr. Ahmad Soebarjo
Mr. AA. Maramis
Prof. Dr. Mr. Soepomo
Soepriyadi
Ir. Soerachmad Cokroadisurjo
Dr. Boentaran Martoatmojo.
Ki Hajar Dewantara
Mr. Ali Sastroamidjoyo
Mr. Iwa Kusuma Sumantri
Abikusno Cokrosuyono
Abukusno Cokrosuyono
|
Dalam melakasanakan tugasnya kabinet ini menganut
sistim Kabinet Presidentil = (Menteri-menterinya bertanggung jawab kepada
Presiden). Para anggota kabinet dilantik oleh presiden Soekarno tanggal 2
September 1945.
Disamping 12 kementerian, terdapat lagi 4 kementrian
Negara yang tidak mengurusi Departemen tertentu yaitu :
|
1 Menteri Negara
2 Menteri Negara
3 Menteri Negara
4 Menteri Negara
|
:
:
:
:
|
Wachid Hasyim
Dr. M. Amir
R. Otto Iskandardinata
Mr. Rm. Sartono
|
b. Pembagian Negara atas Propinsi
Dalam sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945 juga
menetapkan bahwa wilayah RI dibagi menjadi 8 propinsi / Daerah Tingkat 1 antara
lain sebagai berikut :
|
1 Propinsi Sumatera Gubernurnya
2 Propinsi Jawa Barat Gubernurnya
3 Propinsi Jawa Tengah Gubernurnya
4 Propinsi Sunda Kecil Gubernurnya
5 Propinsi Kalimantan Gubernurnya
6 Propinsi Sulawesi Gubernurnya
7 Propinsi Maluku Gubernurnya
8 Propinsi Jawa Timur Gubernurnya
|
:
:
:
:
:
:
:
:
|
Teuku Muhammad Hassan
Sutardjo Kartohadikusumo
R.P. Suroso
Mr. I Gusti Ketut Pujo
Ir. P. Mohammad Noor
Dr. G.S.S.J. Ratulangi
Mr. J. Latuharhary
R.M. Suryo
|
c. Pembentukan KNI (Komite Nasional Indonesia ).
Komite Nasional Indonesia dibentuk dan disyahkan pada
sidang kedua PPKI tanggal 19 Agustus 1945 juga. Fungsi badan tersebut sebagai
DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Ditingkat pusat disebut KNIP (Komite Nasional
Indonesia Pusat) yang dibentuk pada sidang ke 3 Tanggal 22 Agustus 1945.
d. Pembentukan BKR / TKR / TNI.
Sidang PPKI yang ke tiga tanggal 22 Agutus 1945 selain
membentuk Komite Nasional Daerah juga membentuk Badan Keamanan yang disebut BKR
terdiri dari : Bekas Anggota PETA, HEIHO, Laskar Pemuda, Polisi dan
laskar-laskar lainnya.
Pada tanggal 5 Oktober 1945 BKR dirubah menjadi TKR
(Tentara Keamanan Rakyat) ketika Sudirman sebagai Paglima Besar tanggal 23
Januari 1946 nama TKR diubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia ). Kemudian tanggal 3 Juli
1947 pemerintah
mengesahkan berdirinya TNI (Tentara Nasional
Indonesia) sebagai satu-satunya wadah bagi perjuangan bersenjata.
Dua tokoh yang berjasa adalah Jendral Sudirman dan
Jendral Urip Sumoharjo.
3. Perjuangan Bangsa Indonesia
menghadapi Sekutu dan NICA
Pada tanggal 29 September 1945 tentara Sekutu mendarat
di Surabaya
dengan keamanan khusus yang diberi nama AFNEI (Allied Forces Netherland East
Indies) dibawah pimpinan Jendral Sir Philip Cristison.
Tugas Tentara Sekutu di Indonesia antara lain :
1. Melucuti tentara Jepang di Indonesia kemudian ditawan Jepang
2. Mengurus pembebasan pasukan Sekutu yang ditawan Jepang
3. Mewujudkan ketertiban umum di Indonesia .
Jika dilihat tugas tersebut diatas maka tidak
menimbulkan penderitaan bagi bangsa Indonesia, tetapi kedatangan sekutu yang
dibonceng NICA, menunjukkan bahwa Sekutu akan mengembalikan Indonesia kepada
Belanda atau akan memulihkan kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia
Peristiwa Heroik antara lain :
a. Peristiwa Heroik di Surabaya
Pertempuran arek-arek
Surabaya yang terjadi dijembatan Merah menyebabkan tewasnya Brigadir Jerdral
Mallaby.
Hal ini menyebabkan lnggris marah dan mengeluarkan Ultimatum Yang isinya
; " Bahwa semua pimpinan bangsa Indonesia harus menyerahkan senjata
dengan membawa bendera putih degan mengangkat tangan sebagai tanda menyerah
ditempat - tempat yang ditentukan sampai batas / waktu yang ditentukan yaitu pukui 06.00 tanggal 10 Nopember 1945.
Ultimatum itu tidak diindahkan maka meletuslah perang dahsyat antara
arek - arek Surabaya yang dipimpin Bung Tomo. Sungkona, dan Gubernur Suryo,
berusaha mempertahankan Kemerdekaan hingga tetes darah terakhir.
Maka jatuhlah korban yang sangat besar dan pihak bangsa Indonesia (arek - arek Surabaya ) Sampai
sekarang tiap tanggal 10 Nopember kita peringati sebagai hari Pahlawan .
b. Peristiwa
Bandung Lautan Api .
Pasukan Sekutu
memasuki Bandung, pada bulan Oktober dengan tugas melucuti tentara Jepang dan mengambil
alih tawanan Jepang, Sekutu juga menuntut kepada pihak Indonesia untuk menyerahkan
semua senjata yang telah berhasil dirampas dari tangan Jepang. Tuntutan Sekutu
tersebut tidak dihiraukan oleh rakyat Bandung ,
maka meletuslah pertempuran sengit antara rakyat Bandung dengan Sekutu ( lnggris ) pada
tanggal 23 Maret 1946. Datanglah instruksi dari Jakarta
agar kota Bandung
dikosongkan.
Namun sebelum
dikosongkan ( ditinggalkan ) lebih dahulu kota Bandung bagian selatan
dibumi hanguskan dengan maksud agar tidak ada pos penting yang dimanfaatkan oleh
pihak Sekutu Peristiwa itu disebut " Bandung Lautan Api "
c. Pertempuran
Medan Area
Pasukan sekutu tiba
di Medan pada tanggal 9 Oktober 1945 dengan diboncengi NICA. Kedatangan Sekutu
yang diboncengi oleh NICA ini, diprotes oleh rakyat Medan suasana makin genting
dan memanas, maka tanggal 13 Oktober 1945 pecah pertempuran antara rakyat Medan
dengan Sekutu yang disebut peristiwa pertempuran Medan Area.
Tanggal 18 Oktober
1945 Sekutu mengeluarkan maklumat yang menuntut rakyat Medan dan BKR
menyerahkan sejata.
Maklumat itupun
diindahkan maka tanggal 10 Oktober 1945 tentara Sekutu melancarkan serangan
besar-besaran dikota Medan.
d. Peristiwa Merah Putih di
Manado
Para pemuda Manado yang tergantung dalam pasukan KNIL bersama rakyat
berhasil mengambil alih kota Manado ,
Tomohon dan Minahasa dari tangan Sekutu, pada tanggal 14 Desember 1945. Dikota
yang telah mereka rebut, itulah dikibarkan
bendera Merah putih. Tokoh-tokoh Manado
antara lain : Letkol Taulu, Residen Lapian dan Narni Wartobune
e. Pertempuran Ambarawa
Pada tanggal 15 Desember 1945 Meletuslah perang di Ambarawa yaitu
yang dikenal "
Palagan Ambarawa " yaitu antara Divisi V banyumas yang dipimpin oleh
Kolonel Sudirman dengan pasukan Sekutu ( Inggris ) dengan taktik Infanteri dan
taktik Gerilya lnggris berhasil dipukul mundur ke Semarang . Kemenangan ini dikenang dan
dijadikan hari Infanteri yang selalu diperingati oieh TNl AD setiap tangal 15
Desember .
f. Pertempuran
- pertempuran lain:
1. Pertempuran disekitar Jakarta
yang mengakibatkan dipindahkannya lbukota RI ke Yagyakarta tanggal 14 Januari
1946.
2. Perlawanan
rakyat Sulawesi Selatan tanggal 11 Desemeber 1946
Pada tanggal 11
Desember 1946 meletus pertempuran antara rakyat Sulawesi Selatan melawan
pasukan Belanda pimpinan Kapten Westerling, pasukan Westerling mengadakan
pembunuhan massal kurang lebih 40.000 rakyat Sulawesi Selatan termasuk Robert
Wolter Monginsidi dan Nona Emmy Saelan .
3. Pertempuran
Margarana di Bali.
Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946 Belanda mendaratkan
pasukannya di Bali. Belanda membujuk I Gusti Ngurah Rai untuk bekerja sama
membantu negara Indonesia Timur. Tawaran tersebut ditolak oleh I Gusti Ngurah
Rai bahkan melakukan penyerangan pos Belanda di Tabanan dan berhasil
memenangkan pertempuran tanggal 18 Nopember 1946. Kekuatan Belanda yang ada di
Bali dan Lombok digabungkan. untuk menggempur pasukan I Gusti Ngurah Rai . Untuk
menghadapi jumlah pasukan yang besar itu. I Gusti Ngurah Rai menyerukan perang
“Puputan” artinya mengadakan perlawanan hingga tetes darah penghabisan.
I Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya gugur sebagai
kusuma bangsa pada tanggal 18 Nopember 1946.
Selain pertempuran
diatas, saat itu pula muncul pertempuran - pertempuran secara sporadis di
berbagai daerah diseluruh wilayah RI .
5. Perjuangan
Bangsa Indonesia
melalui jalur Diplomasi .
a. Perjuangan menarik dukungan internasionai
melaluiPBB.
1 Tanggal 1 Agustus 1347 Dewan
Keamanan PBB menyerukan Gencatan Senjata (
Cease Fire ) antara Indonesia
- Belanda .
2 Untuk menyelesaikan konflik Indonesia - Belanda akan dibentuk KTN ( Komisi
Tiga Negara ) Belgia, Australia
dan USA ,
3 USA ( Amerika Serikat ) mengancam
akan menghentikan bantuan Ekonomi kepada Belanda, apabila Belanda tidak menghentikan
Praktik Imperalisme di Indonesia
4 PBB mengecam keras Belanda
atas perilakunya di Indonesia .
5 Negara - negara dikawasan
Timur Tengah, Asia dan Australia
mengecam dan mengutuk perbuatan Belanda di Indonesai.
b Persetujuan Linggarjati .
Setelah diadakan
gencatan senjata, dengan mediator Sekutu diadakan perundingan di Linggarjati
muiai 15 Nopember 1946 hingga 25 Maret 1947, persetujuan tersebut baru ditanda
tangani oleh kedua belah pihak di Istana Rijswijk ( Istana Merdeka ) isi
persetujuan Linggarjati ialah sebagai berikut :
1. Belanda mengakui secara De Facto negara RI atas Sumatra ,
,Jawa dan Madura .
2. RI dan Belanda akan bersama
membentuk Negara Indonesia Serikat dan RI sebagai salah satu negara bagian dalam
negara Indonesia Serikat .
3. Negara Indonesia Serikat dan
Belanda akan bersatu menjadi Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu
Belanda sebagai Kepala Uni.
c. Agresi Militer Belanda I
(1947)
Pada tanggal 21 Juli 1947
Belanda melancarkan Agresi militer dan mengingkari persetujuan linggarjati
dilakukan hingga 4 Agustus 1947. Untuk menghadapi Agresi Militer Belanda
tersebut, TNI menggunakan taktik perang gerilya dan dipadu dengan sistim
“Lingkaran pertahanan atau Wehrkreise”
d. Perundingan Renville 17 Januari
1948
Perundingan ini berlangsung
diatas geladak Kapal Angkut milik Amerika Serikat, yang sedang berlabuh di
teluk Jakarta. Dewan Keamanan PBB membentuk KTN (Komisi Tiga Negara) sebagai
mediatornya yaitu : Belgia ,
Austria dan
Amerika Serikat
Keputusan-keputusan perundingan Renville yang ditanda tangani tanggal 17
Januari 1948 adalah sebagai berikut :
1. Akan dibentuk RIS (Republik Indonesia Serikat)
2. Belanda akan tetap berkuasa sampai penyerahan kedaulatan kepada RIS
3. Kedudukan RIS sejajar dengan Belanda
4. RI merupakan bagian dari RIS
5. Pasukan RI ditarik dari daerah pendudukan yang berhasil direbut dari tangan
Belanda
6. RI harus mengakui daerah yang berhasil diduduki Belanda sejak Agresi
Militer pertama Belanda.
Dengan adanya
perundingan Renvile, maka wilayah Republik Indonesia menjadi makin sempit. Oleh
sebab itu rakyat sangat kecewa, hingga jatuhlah Kabinet Amir Syaifuddin .
Kabinet Amir diganti oieh kabinet Hatta ( Drs. Moh.
Fiatta ). Drs. Moh hatta menuntut agar diadakan perundingan lagi. Memang perundingan
terlaksanan lagi yaitu “ Perundingan Kaliurang " tanggal 18 September
1948, namun tidak membawa hasil. Karena kecewa Mr. Amir Syarifuddin yang
berfaham komunis mendalangi pemberontakan Madiun pada tanggal 18 September
1945.
e. Agresi Militer Belanda II (
1948 ).
Pada tanggal 19
Desember 1948, Belanda melancarkan Serangan ke Ibukota RI di Yogyakarta. Serangan
inilah yang disebut Agresi Militer Belanda II, yang berhasii menguasai kota Yogyakarta serta menahan
Presiden dan Wakil Presiden dan sejumlah menteri .
Serangan Belanda dimulai pagi - pagi buta (jam 06.00 )
dengan menerjunkan pasukan payung di lapangan terbang Maguwa Yogyakarta.
Sebelum ditangkap, Presiden Soekarno sempat mengirim Radigma kepada Menteri
Kemakmuran Mr. Safrudin Prawira Negara, untuk segera membentuk pemerintahan
darurat sementara di Bukit Tinggi. Apabila Mr Safrudin Prawira Negara gagal
melaksanakan mandat ini maka diperintahkan kepada Mr. AA. Maramis, L.N. Palar
dan Dr. Sudarsono yang sedang berada di India untuk membentuk pemerintahan
darurat di India.
f. Serangan Umum 1 Maret 1949
Untuk menghadapi
Agresi Militer Belanda II, TNI mendapat dukungan dari Tentara Pelajar (TP).
TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan TGP (Tentara Genie Pelajar).
Pasukan yang
bergabung dalam Brigade 17 TNI yang dipimpin Kolonel Soeharto (sekarang mantan
Presiden RI) melancarkan serangan pada pukul 06.00 (pagi Buta) pada tanggal 1
Maret 1949. Peristiwa itu disebut Serangan Umum 1 Maret 1949, serangan tersebut
membawa dampak yang besar bagi bangsa Indonesia.
g.
Perundingan Roem –
Royen (17 April – 7 Mei 1949)
Agresi Militer
Belanda II, mendapat kecaman dari dunia internasional, bahkan PBB turun tangan
mengganti KTN dengan UNCI (United Commison For Indonesia) untuk mengakhiri
Sengketa Indonesia – Belanda.
Pada Tanggal 7 April
– 7 Mei 1949, terselenggara perundingan yang disebut perundingan Roem-Royen,
karena delegasi Indonesia diwakili oleh Mr. Moh. Roem dan delegasi Belanda oleh
Van Royen. Isi perundingan Roem Royen yang ditanda tangani tanggal 7 Mei 1949
adalah sebagai berikut
1. Baku tembak antara Indonesia
– Belanda dihentikan (Gencatan Senjata)
2. Dalam waktu dekat pemerintah RI dikembalikan ke Yogya.
3. Belanda mengakui RI sebagai bagian dari RIS
4. Akan diadakan KMB di Hen Haag Belanda.
Pada tanggal 13 Juli
1949 Syafrudin Prawira Negara mengembalikan mandat kepada Presiden Soekarno di
Yogyakarta. Demikian pula tanggal 10 Juli 1949 Jendral Sudirman pasukannya tiba
di Yogyakarta setelah sekian lama bergerilya. Tanggal 29 Januari 1950 Jendral
Sudirman (Panglima Sudirman) wafat dan dimakamkan di TMP Semaki Yogyakarta.
h.
Konferensi Antar Indonesia
(19-22 Juli 1949)
Untuk persiapan
menghadapi Konferensi diikuti oleh Republik Indonesia dan BFO (Bijeenkomsr Voor
Federal Overleg) yaitu negara boneka buantan Belanda.
Konferensi itu
diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 19-22 Juli 1949. Keputusan yang
terpenting yang disepakati BFO adalah bahwa BFO mendukung tuntutan RI atas
pengakuan kedaulatan dengan tanpa syarat dari pihak Belanda.
i.
Konferensi Meja
Bundar (KBM)
Sebagai tindak lanjut
perundingan Roem-Royen, maka diselenggarakan KMB (Konferensi Meja Bundar) pada
tanggal 23 Agustus – 2 Nopember 1949 di Den Haag (Negeri Belanda). Delegasi Indonesia ,
dipimpin oleh Drs. Moh Hatta dengan anggota sebagai berikut :
1.
Mr. Moh. Roem
2.
Prof. Dr. Mr. Soepomo
3.
Dr. J. Leimena.
4.
Mr. Ali Satro Amijoyo
5.
Mr. Abdul Karim
Pringgodigdo
6.
Kol. TB Simatupang
7.
Mr. Sumadi
Delegasi BFO dipimpin
oleh Sultan Hamis II dari Pontianak. Delegasi Belanda dipimpin oleh Vr. Van
Maarsven.
Selain
delegasi-delegasi tersebut, Dewan Keamanan PBB juga melakukan pengawasan demi
kelancaran konferensi melalui UNCI (United Nation Commision For Indonesia).
Hasil keputusan KMB
(Konferensi Meja Bundar) adalah sebagai berikut :
1.
Belanda akan mengakui
kedaulatan Indonesia
selambat-lambatnya akhir Desember 1949.
2.
Akan dibentuk Uni Indonesia
– Belanda
3.
Indonesia berubah menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat)
4.
Irian Barat akan
diserahkan kembali kepada Indonesia
satu tahun setelah pengakuan kedaulatan.
j.
Pengakuan Kedaulatan
(27 Desember 1949)
Sebagai tindak lanjut
KMB maka dibentuk PPN (Panitia Pemilihan Nasional) untuk memilih Presiden dan
Wakil Presiden negara RIS (Republik Indonesia Serikat). Pada tanggal 15 – 16
Desember, PPN bersidang dan keputusannya adalah memilih Ir Soekarno sebagai
Presiden RIS dan Drs. Moh Hatta sebagai Wakil Presiden. Pelantikan Presiden dan
Wakil Presiden RIS berlangsung tanggal 17 Desember 1949 di bangsal Sitihinggil
Keraton Yogyakarta. Selain sebagai wakil Presiden RIS, Drs. Moh Hatta dipilih
sebagai Perdana Menteri 20 Desember 1949. Setelah persiapan selesai, maka
tanggal 27 Desember 1949 berlangsung pengakuan kekuasaan atau pengakuan
kedaulatan, upacara pengakuan kedaulatan berlangsung pada tempat :
1.
Di Negeri Belanda
Ratu Yuliana, PM Dr.
Williem Drees dan Menteri Seberang lautan Mr. A.M.J.A. Sassen, menyampaikan
pengakuan kedaulatan kepada Drs. Moh Hatta sebagai ketua Delegasi.
2.
Di Indonesia (Jakarta ).
Wakil Belanda A.J.H.
Lovink menyerahkan pengakuan kedaulatan kepada RIS yang diwakili Sri Sultan
Hamengkubuwono IX.
Di Yogyakarta
kedaulatan RI kepada RIS dilakukan oleh pejabat Presiden Mr Assad kepada
Menteri Penerangan RIS A. Monohutu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar